Jenis Pengelolaan Sampah

Pengelolaan Sampah di Majalengka
Ayo gunakan kembali sampah yang
masih bisa digunakan (sumber gambar : freepik.com)

Disusun oleh  : drg. Gelar S. Ramdhani - Tim Bank Sampah Banjaran Hilir, Blok Banjaran Hilir, Desa Banjaran Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka Jawa Barat.

1. SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH TRADISIONAL

Menurut Suwerda (2012) masyarakat di pedesaan sebagian besar masih menggunakan sistem pengelolaan sampah secara tradisional, yakni dengan cara sampah dikumpulkan, kemudian dimusnahkan (misalnya dibakar), atau dibuang begitu saja (misalnya dibuang ke sungai).

Pengelolaan sampah secara tradisional perlu dihindari atau ditinggalkan karena dapat memberikan dampak yang sangat buruk, baik bagi lingkungan sekitar maupun bagi kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. 

2. SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH SIMPAN KUMPUL BUANG

Menurut Wintoko (2020) secara garis besar pengelolaan sampah yang umum dilakukan di kawasan perkotaan terdiri dari 3 (tiga) tahapan, diantaranya : Tahap Penyimpanan, Tahap Pengumpulan, dan Tahap Pembuangan Akhir. Keseluruhan tahapan tersebut merupakan suatu sistem, dan masing-masing tahapan adalah sub sistem.

a. Tahapan  Penyimpanan (Refuse Storage)

Pada tahapan ini sampah disimpan pada tempat sampah sementara. Misalnya, sampah rumah tangga, sebelum sampah rumah tangga dikumpulkan, biasanya disimpan terlebih dahulu pada tempat sampah yang ada di rumah masing-masing. 

Agar pengelolaan sampah pada tahap selanjutnya lebih mudah, maka disarankan pada tahap penyimpanan ini, sampah disimpan terpisah berdasarkan macam atau jenisnya. Misalnya, sampah organik dan sampah anorganik disimpan terpisah.

b. Tahapan Pengumpulan (Refuse Collector)

Pada tahap ini sampah dari tahap sebelumnya (tahap penyimpanan) dikumpulkan, sebelum selanjutnya dibawa atau diangkut ke tempat pembuangan akhir (tahap pembuangan). Aktivitas masyarakat memindahkan sampah dari tempat penyimpanan sampah di rumah ke bak sampah (kontainer sampah) di lokasi Tempat Penampungan Sementara (TPS), adalah salah satu contoh tahapan pengumpulan yang sering kita lihat sehari-hari.

Penyimpanan kontainer sampah sebaiknya ditempatkan di lokasi strategis, mudah dijangkau oleh masyarakat, dan juga kendaraan pengangkut sampah. Akan tetapi lokasi Tempat Penampungan Sementara ini sebaiknya tidak terlalu dekat dengan kawasan penduduk.

c. Tahapan Pembuangan Akhir 

Sampah dari tahap pengumpulan akan berakhir di tahap ini, biasanya pada tahap ini sampah akan dimusnahkan atau dimanfaatkan kembali. Sebenarnya pola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah tidak ideal lagi diterapkan di Indonesia, terutama untuk daerah perkotaan yang memiliki lahan sempit, serta tingginya angka pertumbuhan populasi penduduk.

Sistem pengelolaan sampah simpan kumpul buang, memiliki banyak kekurangan, dan berpotensi memberikan dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan. Menurut Suwerda (2012) sistem ini hanya fokus pada memindahkan atau mengangkut sampah saja, atau dalam arti lain sampah hanya pindah dari titik A ke titik B, tidak mampu menangani permasalahan sampah secara maksimal.

3. SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH MANDIRI DAN PRODUKTIF

Menurut Suwerda (2012) pengelolaan sampah secara mandiri dan produktif, merupakan sistem pengelolaan yang tidak tergantung sepenuhnya pada pemerintah, masyarakat menjalankan program ini secara swadaya, dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat, pada suatu kelompok atau wilayah tertentu. Garis besar pengelolaan sampah mandiri dan produktif meliputi perubahan perilaku dalam penanganan sampah, penyediaan teknologi tepat guna, serta menjaga kontinuitas program pengelolaan sampah tetap berjalan.

Teknis pengelolaan sampah mandiri dan produktif menitikberatkan pada pentingnya memilah sampah mulai dari rumah, setiap rumah tangga diberikan tas sampah atau tempat sampah yang berbeda-beda sesuai jenis sampah. Jenis sampah anorganik seperti plastik, kaleng, botol, kertas, dan lain sebagainya dijadikan bahan baku daur ulang, yang hasilnya bernilai ekonomi. Kemudian sampah rumah tangga jenis organik seperti sisa sayuran, sisa buah, dan lain sebagainya dimasukan ke dalam drum komposter untuk dijadikan pupuk kompos, setelah jadi pupuk kompos, bisa digunakan sendiri oleh masyarakat atau dijual, sehingga mendatangkan manfaat ekonomi.

Sistem ini dinilai jauh lebih baik dibandingkan dengan sistem simpan kumpul buang yang berpotensi menimbulkan tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sistem pengelolaan sampah mandiri produktif dinilai sangat efektif mengurangi tumpukan sampah di TPA, karena sampah sudah dipilah mulai dari rumah. Sampah yang masih bisa dimanfaakan akan dilakukan pengolahan kembali, tidak dibuang menumpuk begitu saja.

4. SISTEM PENGELOLAAN BANK SAMPAH

Dilansir dari BBC, pengelolaan sampah dengan konsep bank sampah pertama kali diperkenalkan pada tahun 2008 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tepatnya di Pedukuhan Badegan Kabupaten Bantul. Bank sampah pertama di Indonesia itu bernama Bank Sampah Gemah Ripah, inisiatornya adalah Pak Bambang Suwerda, SST., M.Si. beliau adalah seorang Dosen di Jurusan Kesehatan Lingkungan di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Yogyakarta.

Ketika anda mendengar kata "Bank", penulis yakin pikiran anda akan langsung berfikir bahwa bank adalah tempat untuk menyimpan uang. Ya, betul sekali! seperti yang kita ketahui jika kita ingin menabung maka sebaiknya anda datang ke bank. Kemudian, apa itu bank sampah? Bank sampah secara konsep mirip dengan bank konvensional, yaitu melayani masyarakat yang ingin menabung atau menyimpan uang.

Adapun perbedaan antara bank sampah dengan bank konvensional, jika kita menabung di bank konvensional, maka yang kita setorkan adalah uang, akan tetapi ketika kita ingin menabung di bank sampah, yang kita setorkan adalah sampah! kok bisa? Ya, nasabah bank sampah dapat menabung dengan cara menyetorkan sampah jenis tertentu (pada umunya jenis sampah anorganik), kemudian sampah yang disetorkan oleh nasabah akan dicatat oleh petugas bank sampah, selanjutnya petugas bank sampah akan melakukan konversi sampah menjadi uang (Rupiah) sesuai dengan harga beli yang sedang berlaku di daerah masing-masing, selanjutnya saldo tabungan sampah nasabah menjadi saldo dalam bentuk uang, yang mana uangnya bisa nasabah tarik, sesuai dengan ketentuan masing-masing bank sampah.

DAFTAR PUSTAKA

  • Suwerda, Bambang. 2012. Bank Sampah : Kajian Teori dan Penerapan. Pustaka Rihama. Yogyakarta
  • Wintoko, Bambang. 2020. Panduan Praktis Mendirikan Bank Sampah. Pustaka Baru Press. Yogyakarta
  • https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2012/07/120710_trashbank (diakses 14 Mei 2021)
  • https://zerowaste.id/peta-minim-sampah/bank-sampah-gemah-ripah-bantul/ (diakses 14 Mei 2021)

  • ====
    **Terima Kasih anda sudah berkunjung ke website Bank Sampah Banjaran Hilir, Kabupaten Majalengka Jawa Barat. Silahkan KLIK DISINI untuk membaca tulisan-tulisan menarik dari kami.

    Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    Pengertian Sampah, Sumber Sampah, dan Jenis Sampah

    Ayo Mengenal Manfaat Sampah